Search for:

Pada saat menjelang atau sekitar kemerdekaan RI bulan Agustus, kita dikonstruksi secara keliru seakan bangsa Indonesia bisa meraih kemerdekaan dengan tangannya sendiri dan itu dilakukan walau dengan senjata bambu runcing. Apakah ini mungkin maksudnya senjata “ideologi pemberi semangat kemandirian berperang”?. Seakan hanya mereka yang angkat senjatalah yang dikenang jadi pahlawan. Pemain-pemain lain hanya penonton dan tidak masuk dalam historiografi Indonesia yang ditulis dari sudut kacamata kuda para politisi dan penulis sejarah militer di Jakarta.

 

Peran prangko dan uang termasuk radio amatir surat kabar dalam perjuangan kemerdekaan yang tidak kalah hebatnya dari mereka yang main tembak-tembakan itu, satu baris pun, tidak muncul dalam pelajaran di sekolah-sekolah kita. Para guru sejarah harus melakukan inovasi pembelajaran sejarah dan harus menyadari ada  begitu banyak mozaik (gagasan, cara,  peristiwa, orang) dalam memperjuangkan kemerdekaan.

 

Ketika Indonesia di blokade  Belanda,  bagaimana cara negeri ini berkomunikasi menyampaikan keberadaannya sebagai negara berdaulat dengan komunitas internasional? Prangko yang ada masih buatan Belanda dan Jepang,  kantor pos pun (termasuk kantor Pos Besar Medan) masih dikuasai Belanda. Bagaimana prangko sebagai penanda adanya negara bisa diterbitkan dan diakui badan resmi prangko dunia (UPU) ?

 

Tahun 1949 Indonesia menerobos blokade ini dengan mencetak prangko modern dan canggih di Wina, Austria dan mengurus pengakuan legalitas prangko itu untuk bisa diterima dunia. Sebuah lembaga di Amerika juga turut dalam upaya ini. Pertanda ada negara. Karena hobby pada filateli,  patik ada kumpulkan 100 an jenis Prangko Wina yang sebagian  patik tampilkan dalam postingan ini. Ada 200 an jenis prangko Wina yang diketahui  dicetak, belum semua berhasil diburu, baru separohnya ada dalam koleksi patik.

 

Prangko-prangko Wina (gambar, grafis, tulisannya) sangat unik dan tidak muncul dalam periode setelah kedaulatan RI. Ada tulisan  “Merdeka Djogjakarta 6 Juli 1949” (ada apa rupanya tanggal itu maka penting diberitahu ke dunia internasional? Pakai kata Merdeka pula), “RIS Jakarta”,  “Repoeblik Indonesia”, “Republik Indonesia” yang menarik untuk bahan telaah.

 

Dalam dunia filateli prangko ini dinamakan Prangko Wina merujuk ke tempat pembuatannya. Tapi prangko ini sebagian besar tertahan di luar negeri, di larang Belanda sehingga tidak bisa masuk ke Indonesia. Tapi sebagian sempat lolos dan ada bukti sempat digunakan dalam pengiriman surat ke luar negeri.

 

Siapa penggagas pembuat prangko ini, apa tujuan dan hasilnya, apa misterinya, siapa mereka yang mengurusnya, tema tema, gambar, desain dan tokoh yang ada di dalam prangko cetakan Wina itu? Internet di genggaman tangan nemudahkan untuk menelusurinya. Prangko Wina yang relatif mudah didapat kalangan filatelis ini (antara lain karena masa berlakunya singkat dan cetakannya banyak) sangat menarik untuk dijadikan media pembelajaran di sekolah :  mempelajari bagaimana kemerdekaan Indonesia  (di samping jalur pertempuran tembak menembak) juga dengan susah payah diperjuangkan oleh berbagai elemen masyarakat, berbagai profesi dan keahlian dengan dedikasi tak terbatas. Jika mozaik mereka yang berjuang di banyak jalur tidak  diperkenalkan dan jadi inspirasi dalam sejarah bangsa, kita telah membonsai bangsa, mengkerdilkan sejarah dirinya dan di era sekarang, jadi mudah takluk dan ditaklukkan.

Photo Sheet 4 Prangko Indonesia cetakan Wina 1949 ini di bagian atas ada lambang UPU (badan dunia untuk pengakuan prangko resmi). Di bagian bawah kecil ada tulisan bahasa Jerman Staatsdruckerei Wien (maksudnya prangko ini dicetak di Percetakan Negara Austria di Wina) dengan nominal 10, 20, 50 sen dan 1 Rupiah. Tulisan di prangkonya Republik Indonesia RIS Djakarta. Ada gambar banteng memberontak lepas dari rantai belenggunya dgn latar peta Indonesia. Ada bacaan Pos Udara untuk melengkapi aroma prangko ini sebagai alat propaganda munculnya sebuah bangsa baru merdeka.
Gambar Empat sampul surat Indonesia yang ditemukan di luar negeri menggunakan Prangko Wina 1949 berdasar riset Ramkema dan Vosse.
Katalog Prangko Wina terbitan organisasi filateli Dai Nippon di Belanda karangan Ramkena dan Vosse (2005). Buku ini menggambarkan proses pencetakan prangko, dokumen korespondensi dengan UPU dan beberapa hasil riset berkaitan dengan temuan sampul surat berprangko Wina di luar negeri. Buku berwarna ini ada dalam koleksi Pustaka Humaniora Medan.